Nuansa Kebersamaan



Adakah di antara kita yang pernah bertanya, apa sebenarnya rahasia di balik meningkatnya berbagai amaliyah di bulan Ramadhan? Apa yang menyebabkan umat islam begitu bersemangat menghiasi bulan Ramadhan, baik di masjid, rumah, kantor bahkan stasiun televisi sekalipun?
Apa yang membuat jutaan atau mungkin milyaran umat manusia di seluruh dunia rela menahan lapar dan dahaga selama kurang lebih separuh waktu dalam 24 jam? Energi apa gerangan yang telah menyebabkan itu semua?

Tidak sulit untuk menjawab bahwa itu semua adalah karena keistimewaan yg diberikan Allah terhadap hambanya melalui Ramadhan. Bulan yang di dalamnya berisi beragam fasilitas yang tidak didapati di bulan-bulan yang lain. Mulai dari balasan pahala yang berlipat ganda hingga malam yang lebih baik dari seribu bulan, laylatul qadar. Namun bukan hanya itu jawaban yang kita harapkan, karena hal itu hanya terdapat pada bulan Ramadhan. Jika pun itu kuncinya, lalu mengapa suatu amalan yang memiliki ganjaran surga belum mampu menjadi aktifitas kebanyakan umat. Adakah balasan yang lebih menggiurkan disamping surganya Allah?

‘Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam surga Adn. Itulah keberuntungan yang besar.’ (QS As Shaff : 10-12)

Lalu rahasia apa lagi yang belum terungkap dibalik geliat aktifitas ramadhan, sehingga kita dapat menerapkannya pula dibulan-bulan lainnya pasca Ramadhan.
Satu rahasia yang sering luput dari perhatian kita adalah semangat kebersamaan. Adanya kebersamaan sangat berdampak kepada semangat untuk melakukan berbagai aktifitas di bulan Ramadhan. Mulai sahur, sholat shubuh, shaum, tilawah qur’an, buka puasa, hingga qiyamul lail di lakukan secara bersama-sama. Bahkan karena kebersamaan itu, mereka yang memang tidak sedang berpuasa ‘terpaksa’ bersikap seperti orang yang sedang berpuasa. Ada rasa malu yang menghinggapi bila tidak melakukan suatu kebaikan yang sedang dilakukan oleh orang banyak. Rasa malu itulah yang kita butuhkan, sebagaimana seorang sahabat nabi yang harus bersembunyi ketika bertemu jama’ah shalat ashar yang hendak pulang karena dia merasa malu diketahui ketinggalan shalat berjama’ah. Bukan malu karena riya’ tapi malu karena tidak bisa bersama-sama mereka menghadap-Nya.

Lailatul qadar memang hanya milik Ramadhan, namun kebersamaan bukan hanya milik Ramadhan. Namun sulit untuk menciptakan kebersamaan yang kolektif, jika kita tidak memulainya dari diri kita sendiri, keluarga dan orang-orang yang ada didekat kita. Jika kita berada dirumah, ajaklah mereka untuk qiyamul lail, sahur bersama, shaum sunnah bersama dan buka puasa bersama. Jika kita tinggal bersama bererapa teman dalam satu kost, ajaklah mereka selalu sholat tepat waktu di mesjid. Jika kita berada di kantor, ajaklah rekan-rekan kita untuk shalat berjamaah atau tilawah qur’an sejenak sambil mengisi waktu istirahat. Dalam hidup bertetangga, ajaklah orang-orang dilingkungan rumah kita untuk menghidupkan masjid terdekat atau pengajian RT misalnya.

Sungguh, jika nuansa kebersamaan itu telah dirasakan dimana-mana, maka akan tampak wujud Ramadhan dengan bentuk yang berbeda. Kita akan mendapatkan ruh Ramadhan di bulan Syawal hingga Sya’ban tahun berikutnya. Dan kita tidak perlu sekedar bernostalgia dengan Ramadhan, karena semangat Ramadhan tetap hadir dalam setiap amaliyah kita, yaitu semangat kebersamaan. Bukankah kita ingin masuk surga secara bersama-sama?

‘Wasiiqalladzinattaqou rabbakum ilal jannati zumara..’ ‘Dan orang-orang yang bertaqwa kepada Rabb nya dibawa ke dalam surga secara bersama-sama…’ (QS Azzumar:73)

wallohu a’lam

Single Post Navigation

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: